8 Hal Yang (Mudah2-an) Tidak Ada Pada Diri

Coat of Arms of Indonesian city of Bandung.

Image via Wikipedia

Banyak teman yang meminta mengerjakan PR perihal 8 hal yang ada atau berhubungan dengan diri. Namun kali ini akan disampaikan 8 Hal Yang (Mudah2-an) Tidak Ada Pada Diri:

  1. Ambisius:
    Mungkin banyak orang menganggap ambisius itu penting…setidaknya mempunyai ambisi….Ayo bedanya apa ya??? Namun sampai saat ini, harmoni lebih dipentingkan oleh pribadi dari “penonjolan diri”….bahkan pada saat yang itu memang telah menjadi “hak”. Bukan bermaksud sombong…… Sudah beberapa kali diri ini menolak jabatan yang lebih tinggi baik saat ini maupun di perusahaan sebelumnya….Saya mohon maaf bilamana mengecewakan beberapa fihak dalam hal ini….Alasannya simpel (bagi saya); Ada ketakutan harus main golf, takut bekerja sampai tengah malam (walau saat ini pun sering…), menghargai teman, tidak bisa pulang ke Bandung saat weeked, tidak mau mengantar tamu ke tempat “lampu merah”, takut mengganggu sekolah dan lain-lain. Agak sedikit naif memang…namun itu adalah suatu pilihan….dan itu adalah Hak Azasi Manusia (HAM)..

    “A wise man is cured of ambition by ambition itself; his aim is so exalted that riches, office, fortune and favor cannot satisfy him” ~ Samuel Johnson quotes

  2. Lebih Mencintai Pekerjaan Dibanding Keluarga:
    Sampai saat ini…setelah bekerja di beberapa perusahaan Multi Nasional (terutama Amerika), dalam diri sudah ditekadkan bahwa keseimbangan kepentingan keluarga dan perusahaan adalah sangat penting..atau sedikit lebih besar….he…he. Ini tidak lepas karena seringnya membaca buku dan melihat film yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa seorang manusia pada dasarnya bermula dan berakhir pada keluarganya. Statistik dan fakta: Kerja Normal/Wajib adalah 8 jam/33,3%, sisanya yang 16 jam/66,66% adalah milik keluarga ….walaupun harus dikurangi oleh waktu2 yang berhubungan dengan transportasi, komunikasi dll yang pada dasarnya untuk keluarga juga…. Hal ini ditambah pengalaman beberapa “expat” yang pernah bekerja sama (baca: sama2 kerja) dan menjadi panutan karena komitmennya yang sama besar terhadap keluarga dan perusahaan.

    “In dwelling, live close to the ground. In thinking, keep to the simple. In conflict, be fair and generous. In governing, don’t try to control. In work, do what you enjoy. In family life, be completely present.” Tao Te Ching quotes

  3. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan:
    Hal ini dicoba dan dihindari oleh diri dalam segala hal…Sesuatu yang dicapai, karena tiba2 kita menjadi “Accidental Hero” (ingat film-nya Dustin Hofman??) akan menjadi “boomerang”…. karena akan kehilangan dukungan “Pemangku Kepentingan” baik di keluarga, pekerjaan atau kehidupan rohani dan sosial. Sesuai dengan Tema awal blog ini “Focus On The Journey, Not The Destination”, sesuatu pencapaian harus melalui proses yang baik dan benar (baca: “Halalan Thayiban”) sehingga semuanya akan bermula dengan baik dan berakhir baik pula.

    “I am confirmed in my division of human energies. Ambitious people climb, but faithful people build.” Julia Ward Howe quotes

  4. Kesuksesan diukur secara material
    Banyak teman menganggap bahwa saya dianggap sukses karena secara material dan struktural lebih mapan…. Padahal lebih dari itu, kesuksesan adalah bilamana pribadi tidak berubah terhadap orang lain baik dalam keadaan susah maupun senang. Begitu pula saya mengukur kesuksesan orang lain dengan proses yang dia capai dan bukan pencapaiannya….. Diri ini sangat menghargai teman, sahabat, rekan dan keluarga yang memang sukses dalam mencapai tujuannya dengan segala ketabahan, inovasi, semangat berjuang dan tetap Tawa’du pada Allah SWT. Saya sangat terkesan dengan salah seorang teman keturunan Chinese yang mengatakan: “Saya mungkin telah sukses sekolah di salah satu College di Amerika berkat usaha dan kerja keras orang tua yang punya toko kelontong yang sederhana……Tapi sekarang, dengan keadaan yang lebih baik, apakah anak saya bisa lebih baik dari saya??? Bagi saya anak adalah sangat penting dan tolok ukur kesuksesan saya ada pada kualitas keturunanku nanti” Paparan tentang hal ini dapat dibaca disini.

    “Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” Herman Cain quotes

  5. Tidak Menghargai Persahabatan
    Selama kurang lebih 5 windu setelah terlahir di dunia……hal ini menjadi prioritas dalam hidup. Mungkin tidak semulus seperti yang ada dalam sinetron, namun menurut pengalaman, persahabatan adalah sesuatu yang menjadi fitrah diri manusia sebagai mahluk sosial…….. Diri ini mencoba menjalin beberapa persahabatan dengan beberapa orang yang saling percaya (Trustworthiness)….dan Alhamdullilah berjalan dengan baik…… Kata kuncinya adalah Kami mencoba untuk tetap “lurus” dan “tidak berubah” semenjak pertama kali bersahabat sampai sekarang….meskipun jalan yang dilalui “terjal dan sampai bibir jurang”.

    “Be courteous to all, but intimate with few, and let those few be well tried before you give them your confidence. True friendship is a plant of slow growth, and must undergo and withstand the shocks of adversity before it is entitled to the appellation.” George Washington quotes

  6. Mudah Terbujuk Rayuan
    Bagi laki-laki mungkin rayuan dan godaan wanita adalah nyata dan tidak bisa diremehkan…..Bila rayuan itu datang dari istri maka akan menjadi barokah dan menjadi bibit kasih dan bunga cinta yang sangat indah…..Tapi bila hal itu datang dari WIL maka konstelasinya akan berubah dan kita harus tahu risiko yang dihadapi….. Alhamdulllah sampai saat ini godaan atau rayuan itu (PD aja…he.he..) dapat dihindari…Resepnya: Sebelum berpikir soal konsekwensi agama…..Seringkali dihitung secara ekonomis, matematis, dan is-is lainnya yang pada keimpulannya “don’t try at home”…..

    “Only trust thyself, and another shall not betray thee.” William Penn quotes

  7. Lebih Besar Pasak Daripada Tiang
    Sejak kecil saya menyadari bahwa bersikap “Hemat Pangkal Kaya” adalah benar adanya. Bukan bermaksud sombong…..Saat ini setelah mengalami pasang surut kehidupan, yang menjadi pegangan dalam pengelolaan keuangan keluarga adalah rumus pengeluaran yang dipakai oleh Pak Soegiharto/ex-Menteri BUMN sbb:
    40% untuk keperluan sehari-hari (temasuk acara selingan, makan di luar, liburan dan sebagainya)
    30% untuk pendidikan (bukan hanya iuran sekolah, namun jaga sarana lain untuk “Sharpen The Saw”)
    30% untuk investasi (termasuk tabungan, asuransi, properti, aset, “bekal di akhirat” dan lain-lain)

    “We believed that it was a prudent measure for us to follow, make sure we had the cash readily available to us to finance our operations should it be needed.” John Sheehan quotes

  8. Tidak Senang Mengajar
    Kalau diperbolehkan memilih karier…maka saya akan memilih mengajar sebgai pilihan utama. Pada dasarnya seuatu pekerjaan kebanyakan adalah berkomunikasi (Communicating) dan mendidik (Coaching, Educating etc.). Saat ini pun diluar pekerjaan yang rutin saya senang mengajar (lebih tepat lagi mendidik) keluarga, rekan kerja atau bawahan, mahasiswa dan orang-orang di sekeliling dengan segala sesuatu yang memberi “nilai tambah”. Bisa saja itu merupakan sesuatu yang “diluar kebiasaan” namun bila menempatkan manusia sebagai mahluk tertinggi ciptaan-Nya.. maka akan saya sampaikan sebagai bagian dari “Amar ma’ruf Nahi Munkar”….

“The object of education is to prepare the young to educate themselves throughout their lives.” Robert M. Hutchins quotes

Sebagai bonus (karena diminta), saya sampaikan 8 Resolusi untuk Tahun 2008:

  1. Lebih memperhatikan keluarga baik terutama dari sisi rohani dan peningkatan “personal development”….Tanggung jawab sebagai kepala keluarga agar di akhirat terhindar dari Somasi anak dan istri…..
  2. Ingin meningkatkan porsi mengajar menjadi 25% dari total waktu karier pribadi…..Impian yang terus menggelora dan porsinya ingin ditingkatkan terus…
  3. Melakukan 2 kegiatan sosial yang cukup besar diluar keterlibatan dengan perusahaan atau institusi……Yang sudah terbayang sich mengadakan khitanan massal seperti saat lulus sarjana…..Yang kedua adalah memberikan bantuan untuk sekolah yang pernah ditempati dan masih membutuhkan bantuan…
  4. Lebih rajin olah raga untuk menjaga kesehatan…..kayaknya berat tubuh meningkat nich…
  5. Membuat “Start Up Company” yang diharapkan dapat menajdi Inkubator Kewirausahaan, minimal untuk pribadi…juga orang lain.
  6. Mulai memikirkan untuk meraih karier yang lebih tinggi tanpa ada perasaan ambisius…Terus terang ini saya rasakan sebagai tantangan besar (lihat point no.1 dari artikel ini).
  7. Hoyong kursus Cianjuran atanapi Kacapian….Sanes dina raraga ngamumule Budaya Sunda….mung kuring resep wae (caket2 ka bogoh)….Oge, saparantos ningal pajabat palinter nyanyi, sim kuring ngemut yen tiasa ngagem hiji bidang kasenian tina Budaya Sunda, bakal ngarupikeun “Competitive Advantage” kanggo pribados sareng urang sadaya…..
  8. Lebih memikirkan untuk mencintai bumi ini dan mencoba untuk mengurangi efek Global Warming…Langkah nyatanya adalah menjual mobil yang terbilang “boros’ dan menggantikannya dengan yang lebih hemat….serta kalau tidak perlu…tidak usah ada aset yang dobel….

Panjang juga ya ….. End notes…. Oleh karena itu saya tidak akan meminta rekan2 dan sahabat untuk membuat PR ini…namun penuh harapan dan terima kasih atas komentar, dorongan, kritik, saran dan kegembiraan yang telah diberikan selama ini

Wassalam

Djadja Achmad Sardjana

Leave a Reply