Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?


Pertanyaan ini saya ajukan karena penasaran semakin tumpulnya peran budaya melaui penguasaan bahasa daerah di sekitar kita. Mungkin kita ingat bawa ada sekitar
746 bahasa daerah di Indonesia.Bagi saya manfaat dari Bahasa Daerah itu sangat besar terbukti dari kejadian nyata yang bahkan jauh dari unsur budaya itu sendiri, diantaranya:

  1. Peran Suku Navajo pada Perang Dunia ke 2 di Pasifik:
    Mungkin bagi penggemar film, kita penah menonton atau tahu tentang film Windtalkers. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Amerika Serikat terdesak oleh Jepang karena setiap sandi perangnya dipecahkan. Hal ini mengakibatkan kekalahan yang telak di beberapa pertempuran. Akhirnya diputuskan untuk merekrut tentara dari Suku Indian Navajo sebagai ahli sandi perang dengan menggunakan bahasa daerah mereka. Disinilah peran Sergeant Joe Enders yang dibintangi Nicolas Cage untuk melindungi mereka agar sandi tesebut tidak jatuh ke tangan Jepang. Terbukti bahwa peranan mereka sangat besar sehingga peta peperangan berbalik untuk kemenangan Amerika Serikat karena Jepang tidak bisa memecahkan sandi-sandi tersebut.
  2. Sheila Watt-Cloutier, Nominator Nobel Lingkungan dari Alaska : Dalam usahanya memperbaiki lingkungan Suku Inuit di Alaska, Sheila (yang bukan Suku Inuit) berusaha dengan tekun menjadi bagian suku tersebut agar usahanya berhasail. Caranya adalah dengan mempelajari Bahasa Daerah Suku Inuit sehingga ia bisa larut dengan budayanya. Cara ini ternyata sangat ampuh menjadi jembatan komunikasi keberhasilannya memperbaiki lingkungan di Alaska. Dalam perebutan Hadiah Nobel, dia hanya kalah dari Muhammad Yunus dangan Grameen Bank-nya di Bangladesh.
  3. Pembebasan Sandera Pesawat Udara di Don Muang: Mungkin kita tidak mengetahui bahwa pada saat peristiwa ini, antara prajurit di lapangan dengan pusat komando di Indonesia sebagian komunikasinya dilakukan dalam Bahasa Jawa. Hal ini dilakukan agar penyandera dan fihak lain (termasuk Pemerintah Thailand) tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam perencanaan pembebasan sandera tersebut. Di luar pro dan kontra, hal ini membuktikan ternyata penggunaan bahasa daerah sangat efektif untuk komunikasi yang membutuhkan kerahasiaan atau “emotional binding” yang tinggi.


Mungkin masih banyak lagi artikel yang membahas pentingnya bahasa daerah dari sisi budaya, agama, politik, ekonomi dan lain-lain. Sebagai penutup saya kutip artikel yang memperkuat kekhawatiran akan kemungkina punahnya Bahasa Daerah di harian Kompas, Rabu 14 November 2007 sbb:

726 Bahasa Daerah Terancam Punah
Bisa Dipelihara Melalui Komunitas
Bandar Lampung, Kompas – Sebanyak 726 dari 746 bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena generasi muda enggan memakai bahasa tersebut. Bahkan, kini hanya tersisa 13 bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur di atas satu juta orang, itu pun sebagian besar generasi tua.

“Anak muda sekarang cenderung memakai bahasa asing dan bahasa nasional daripada bahasa daerah di dalam kehidupan sehari-harinya,” kata Kepala Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Mustakim di sela-sela Kongres Bahasa-bahasa Daerah Wilayah Barat di Bandar Lampung, Selasa (13/11).

Menurut Mustakim, sebanyak 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih dari satu juta penutur adalah Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Sunda, Bali, Bugis, Madura, Minang, Rejang Lebong, Lampung, Makassar, Banjar, Bima, dan Bahasa Sasak.

Bahkan, tidak sedikit bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari satu juta bahkan hanya tinggal puluhan penutur saja. Di antaranya bahasa di daerah Halmahera, Maluku Utara, yang jumlah penuturnya sangat terbatas.

Salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah penutur adalah akibat pengaruh budaya global. Pengaruh budaya itu menyebabkan generasi muda lebih suka berbicara dengan menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, sesekali diselingi dengan menggunakan bahasa asing, daripada dengan bahasa daerah.

Cinta bahasa daerah

Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Dhanardana mengatakan, untuk menumbuhkan dan melestarikan bahasa daerah, Pusat Bahasa bekerja sama dengan balai-balai bahasa di setiap provinsi di Indonesia menggiatkan kembali kecintaan generasi muda pada pemakaian bahasa daerah. Selain itu, pemakaian bahasa daerah bisa digarap melalui komunitas-komunitas sastra, lembaga-lembaga bahasa, ataupun jalur pendidikan formal di sekolah.

Akan tetapi, tindakan yang lebih konkret untuk mempertahankan bahasa daerah adalah dengan menerapkan langsung bahasa daerah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mustakim mencontohkan, bahasa daerah juga bisa dipakai dalam percakapan di rumah, untuk nama jalan, nama bangunan, nama kompleks perkantoran, nama kompleks perdagangan, merek dagang, ataupun nama lembaga pendidikan. Nama-nama dalam bahasa daerah itu bisa ditulis di bawah nama dalam bahasa Indonesia.

Lebih lanjut Mustakim mengatakan, pemerintah sebetulnya juga telah menunjukkan keberpihakannya dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa Nasional dan Daerah. “Peraturan itu seharusnya bisa menjadi pedoman setiap kepala daerah melestarikan bahasa daerah masing-masing,” kata Mustakim.

Meski demikian, menurut Mustakim, peraturan yang paling mengikat untuk bisa melestarikan bahasa daerah dan menghindarkan dari kepunahan adalah diterbitkannya undang-undang bahasa. (HLN)


 

0 comments for “Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?

  1. IJAL
    1 June 2008 at 17:47

    Iseng-iseng masukkan kata ‘muararajeun’ dalam google… ketemu blog ini.

    Setuju kang Jaja. Perlu ada usaha mempertahankan budaya melalui bahasa.
    Apa yang terjadi di negeri kita sungguh sangat mengkhawatirkan. Ke mana arah perkembangan bangsa kita?

    Mungkin bagus kang Jaja beli buku Ajip Rosidi, satu dari sedikit orang yang masih aktif menggunakan bahasa Sunda dalam karangan-karangannya.

    Buku itu memperingati 70 tahun hari lahirnya. Judulnya “Hidup tanpa Ijasah”, sebangsa otobiografi walaupun beliau tidak senang dinamai seperti itu.

    Tebalnya lumayan… 1200 halaman, kurang lebih. Tapi Harry Potter aja setebal itu bisa terbaca πŸ™‚
    (saya baru sampai halaman ke 40-an)

  2. blablablah
    13 January 2010 at 21:25

    wah, saya justru iri sama mereka yang punya bahasa daerah. sebagai seorang warga keturunan, saya cuma kenal satu bahasa sejak lahir: bahasa indonesia (iya, keluarga saya gak ada yg ngomong pake bahasa cina). pernah belajar bahasa sunda dikit waktu SD-SMP. tapi sudah lupa karena di lingkungan saya yang mayoritas warga keturunan juga, jarang dipakai..

  3. 13 January 2010 at 22:39

    Ya bahasa adalah wajah budaya bangsa……………..Bahasa yang hilang seperti wajah yang dioperasi plastik dan mengalami degradasi seperti wajah Michale jackson πŸ™‚

  4. alamalee
    4 February 2010 at 19:31

    he he he besok Sabtu, kami harus menggunakan bahasa Daerah Bahasa Dayak Ngaju dalam berbagai aktivitas di kantor.. ini sesuai instruksi Walikota :). Di Palangka Raya, khususnya lingkup Pemerintahan kota, memang diwajibkan seminggu sekali berkomunikasi dalam bahasa daerah khsusunya Dayak Ngaju. πŸ™‚

    • 1 October 2011 at 13:24

      Selamat berbahasa daerah ya…..Semoga terus bisa menjaganya πŸ™‚

  5. alamalee
    4 February 2010 at 19:34

    selama satu minggu, satu hariyakni hari sabtu para PNS Pemko berkomunikasi menggunakan bahasa dayak gitu maksudnya πŸ™‚

    • 26 November 2011 at 08:26

      Salut untuk usaha spt ini……Semoga sukses πŸ™‚

  6. januardi
    25 November 2011 at 19:16

    kalau boleh saya bertanya apakah bahasa daerah dapat merusak atau memperkaya bangsa indonesia..??? kemukakan alasannya..!

    • 26 November 2011 at 08:24

      Waduh ini spt ujian saja πŸ™‚ Kalau membaca dan melihat sejarah pembentukan bangsa besar di dunia spt China, India, Romawi bahkan Amerika; bahasa lokal tidak menjadikan bangsa tsb lemah namun menjadi kekuatan yang besar…..

Leave a Reply