Mengapa saya pilih @Pak_JK dan @HattaRajasa untuk @Indonesia?

Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla for Indonesia

Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla for Indonesia

Jusuf Kalla: Saudagar dari Timur dan kiprahnya sebagai Pendamai Indonesia

Pada awalnya, banyak orang yang gerah dengan kemunculan JK sebagai pedagang, saudagar, bisnismen, atau konglomerat tampil di panggung politik nasional. Seolah apa-apa yang ada di negara ini dijual kepada rakyatnya, dan rakyat harus beli jika mau hidup. Lepas dari anggapan seperti itu, banyak sekali yang telah diperbuat JK sebagai wakil presiden RI yang ke 7.

Perhatikan apa yang telah JK lakukan selama ia menjadi wakil presiden. JK berhasil mendorong ekspor dalam negeri dalam jumlah kenaikan yang signifikan. Produksi nasional (dalam negeri) selalu dipacu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini terlihat dari upayanya meningkatkan pamor pabrik sepatu dalam negeri (Cibaduyut) dan diekspor ke luar negeri dalam berbagai merek yang tak kalah dengan merek yang telah dikenal. Belum lagi ekspor barang dalam negeri lainnya seperti tambang, gas, dan hasil olahan manufaktur dan sebagainya. Kemudian konversi minyak tanah ke bahan bakar gas, merupakan sebuah upaya besar-besaran dari perhitungan penuh efisiensi dari seorang pedagang, seperti JK. Pokoknya, JK berhasil sebagai motor penggerak ekonomi dalam negeri yang handal selama ia menjabat wakil presiden 2004 – 2009.

Seharusnya, JK mampu menjabat banyak kementerian dalam kiprahnya sebagai wakil presiden. Bagaimana tidak, jika menteri luar negeri kita, Ali Alatas, menjadi bibir penyambung perdamaian di Kamboja, JK menjadi bibir penyambung perdamaian konflik yang sangat sulit dipadamkan, yaitu konflik Aceh. Hampir selama 50 tahun Aceh bergolak dan minta keadilan, semua presiden yang pernah menjabat (kecuali era SBY) tidak ada yang mampu menyelesaikan konflik Aceh. Soekarno, Soeharto, Habibi, Gus Dur dan Megawati Soekarno Putri gagal di Aceh.

Presiden SBY dengan motor penggerak perdamaian wakil presiden JK, berhasil memadamkan api permusuhan yang telah membara puluhan tahun. JK akan terus dikenang dan dia adalah seorang besar yang pernah lahir di Republik ini. Berbekal sebagai pendamai di Poso (Sulawesi Tengah) dan Ambon, JK dengan teguh dan kukuh maju sebagai juru damai di Aceh. Orang-orang Aceh akan tetap mengenang JK sebagai pemadam api permusuhan antara Pemerintah Pusat dan daerah (Aceh).

Selain sebagai juru damai yang ulung dan diakui oleh kawan dan lawan, JK adalah seorang wakil presiden yang unik. Belum pernah ada seorang wakil presiden yang aktifitasnya seolah melebihi wewenangnya sebagai wakil presiden. Padahal sebenarnya, duet antara SBY dan JK, selama 5 tahun yang lalu sungguh suatu dinamika yang saling melengkapi dan saling mendukung. Dan hal itu terjadi secara otomatis, tanpa ada kejanggalan yang terjadi antara keduanya (Presiden dan Wakilnya). Hanya saja orang-orang yang berada di luar lingkaran yang menilai aneh.

Hatta Rajasa: CEO  yang menjadi Birokrat Tangguh

Hatta Rajasa merupakan pengusaha dan CEO sukses yang kini berkonsentrasi jadi politisi. Semua perusahaannya dijual setelah masuk partai. Pria religius penganut pluralisme dalam politik ini berobsesi menjadi politisi negarawan yang mendahulukan kepentingan bangsa. Terlatih bekerja keras, jujur, mandiri dan bekerjasama sejak kecil. Sekjen Partai Amanat Nasional ini, dipercaya dan menunjukkan integritas dan kapasitasnya menjabat Menristek pada Kabinet Gotong-Royong dan Menteri Perhubungan pada Kabinet Indonesia Baru.

Pada 9 Januari 2010, secara aklamasi, Hatta Rajasa terpilih sebagai Ketua Umum DPP PAN periode 2010-2015 menggantikan Soetrisno Bachir. Besan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini juga terpilih sebagai bakal calon presiden dalam pemilu 2014. Hal tersebut diungkapkan dalam Rapat Kerja Nasional PAN 2011 di Jakarta. Hubungan baik tersebut tak hanya dari status besan. Kedekatan mereka menarik perhatian karena hubungan kedua orangtuanya dikancah politik dan pemerintahan. Hatta dikenal sebagai menteri yang cukup dekat dengan SBY, bahkan kerap menjadi utusan penghubung silahturahmi politik SBY dengan lawan politiknya. Bahkan, banyak yang menyebut pernikahan putri Hatta dengan putra bungsu SBY merupakan perkawinan politik.

Pada mulanya dia menjabat Ketua Departemen Sumber Daya Alam dan Enerji di PAN. Kemudian, setelah kongres I, terpilih menjadi Sekjen. Pada Pemilu 1999, ia pun terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari PAN, dari wilayah pemilihan Bandung. Di lembaga legislatif itu, dia terpilih menjadi ketua Fraksi Reformasi DPR. Profesional dan konsentrasi penuh membuat kinerjanya menonjol dalam lobi politik. Meski terkenal di bidang politik ternyata Hatta Rajasa adalah lulusan teknik perminyakan dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di sisi lain, ayah empat anak ini merupakan sosok yang hangat dengan keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga juga merupakan kunci sukses lain Hatta Rajasa dalam menjalani karier. Dia dikenal sebagai pribadi penyayang keluarga (family man). Sementara itu, gaya hidup keluarga pun tidak berubah ketika dia menduduki jabatan birokrasi pemerintahan. Sang istri tetap setir mobil sendiri, bahkan Hatta sangat marah jika mendapatkan privilege di jalan raya, seperti mendapatkan pengawalan motor patwal. Meskipun beresiko terkena macet, dia justru menikmati hal itu.

Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa untuk Indonesia

Pasangan calon wakil presiden nomor urut dua, Jusuf Kalla, mengucapkan terima kasih kepada rivalnya, Hatta Rajasa, yang menyatakan sepakat atas pandangan terhadap pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Menanggapi jawaban ini, Hatta menyatakan sepakat atas pandangan tersebut. “Walaupun belum dijelaskan bagaimana yang disebut efisien, masih kualitatif, belum terukur. Harus ada pemilihan yang terukur, tidak boros biaya. Memang esensinya, pemilihan langsung dikehendaki rakyat, tapi harus dilakukan dalam kondisi dan keadaan yang tidak dibebani dengan biaya tinggi,” kata Hatta saat memberikan tanggapan, dalam Debat Kandidat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, di Balai Sarbini, Jakarta, Senin (9/6/2014) malam.

Ketika diberikan kesempatan kembali menanggapi, Jusuf Kalla membuka pernyataannya dengan ucapan terima kasih. “Pertama, terima kasih sudah setuju dengan kami, Pak Hatta,” kata Kalla, disambut tawa kecil hadirin yang hadir.

Di lain waktu, beberapa minggu sebelum diumumkan jadi cawapres, Hatta Rajasa berkeliling ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tengah perjalanan di jalan raya antara Solo dan Bojonegoro, Hatta singgah di Dusun Payung, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro. Kunjungan ini disiarkan radio dan televisi ke seluruh Indonesia.

Warti, pembantu keluarga Hatta, yang berada di Jakarta langsung mengontak telepon seluler Hatta. “Pak Hatta saat ini sedang ada di dusun tempat tinggal saya,” kata Warti yang telah 30 tahun ikut keluarga Hatta.

Hatta tidak menyangka desa yang dikunjungi adalah tempat tinggal pembantu setianya yang telah dianggap anggota keluarga sendiri. Hatta ke rumah ayah Warti, Shodimejo (80 tahun). Beberapa anak, menantu, dan cucu Shodimejo pernah ikut keluarga Hatta. Beberapa cucu Shodimejo bisa meraih sarjana dan bekerja di sebuah departemen karena bantuan Hatta. Pertemuan di Dusun Payung ini penuh kegembiraan dan air mata. Shodimejo mengatakan, “Kulo ndongakaken Pak Hatta dados wakil presiden (Saya berdoa Pak Hatta jadi wapres).”

Hatta dan JK adalah dua orang yang ramah dalam bergaul dengan siapa pun, termasuk orang-orang di kubu lawan politik. JK dan Hatta sering berpelukan dengan akrab, spontan serta tulus diantaranya di Gedung Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Minggu (1 Juni 2014), di Hari Kelahiran Pancasila Ke-69 dan saat Debat Capres-Cawapres di Balai Sarbini juga di banyak kesempatan acara yang merupakan simbol yang indah dari seorang negarawan demokrasi …….

 

Leave a Reply