Pengejaran Abadi Keadilan dan Kebebasan Grameen

Kerry Kennedy, President of the Robert F. Kennedy Center (third from right), with Grameen Bank members.

Kerry Kennedy, President of the Robert F. Kennedy Center (third from right), with Grameen Bank members.

Pengejaran Abadi Keadilan dan Kebebasan Grameen

Atas undangan  Muhammad Yunus, Kerry Kennedy melakukan perjalanan ke Bangladesh, suatu pengalaman yang benar-benar merendahkan diri dan inspiratif. Kerry Kennedy bertemu begitu banyak orang luar biasa yang berjuang untuk memperbaiki negara dan kehidupan mereka. Ia menulis surat kepada anaknya tentang perjalanan tersebut, sebagai berikut:

Sayangku Cara, Mariah dan Michaela,

Mengunjungi Bangladesh telah menjadi impian seumur hidup saya, tetapi semua yang saya telah dengar tentang orang-orang yang mencintai kebebasan sehingga mereka bertahan dari serangan pasukan negara besar, kelaparan dan kemiskinan  tidak bisa memenuhi hasrat saya dibanding apa yang saya lihat dalam tiga hari terakhir .

Keberanian patriot Bengali  dan daya tahan  menghadapi tentara Pakistan empat puluh tahun yang lalu adalah bagian dari legenda keluarga kami. Aku ingat  ketika Paman Teddy menceritakan tentang kunjungannya ke kamp-kamp pengungsi Calcutta, di mana puluhan ribu tidak tinggal di tenda-tenda tetapi dalam pipa saluran pembuangan. Orang-orang di kamp-kamp tersebut  melarikan diri dari pembunuhan massal – sebagian orang mengatakan genosida – dimana Amerika Serikat telah gagal untuk menghentikanya. Ini sebagai kebijakan resmi Administrasi Nixon  untuk memilih hubungan baik dengan Pakistan daripada orang-orang yang berbagi cinta atas kebebasan. Paman Teddy berjanji untuk kembali ketika negara itu merdeka, dan beberapa bulan kemudian, ia dan Paman Joe ada di antara para pengunjung internasional pertama ke negara yang baru lahir, Bangladesh.

Mengingat apa yang saya dengar dari Paman Teddy, saya seharusnya tidak terkejut oleh orang-orang yang inspiratif dimana rekan saya Lydia Allen dan saya bertemu di Bangladesh.Orang-orang yang menanggung penderitaan ekstrim untuk kebebasan yang mereka cintai dan menuntut untuk adanya negara bagi mereka.

Dalam ruang kayu kecil yang ditata wanita mengenakan sari cerah, kami bertemu denganya sebagai pemegang saham  Grameen Bank – Lembaga kredit mikro transformatif yang didirikan oleh pemenang Nobel Perdamaian Muhammad Yunus – yang meminjamkannya 5.000 taka (sekitar $ 80) untuk membeli becak, dan kemudian 20.000 taka ($ 240) untuk membeli seekor sapi, dan kemudian 30.000 taka ($ 480) untuk membeli tanah. Berkat kerja kerasnya beserta Grameen Bank, ia sekarang memiliki rumah penuh dengan perabotan, meja penuh dengan makanan, air, toilet , dan satu set televisi. Dia dapatr menyimpan 100 taka per bulan, dan tahun ini dia akan menerima 100.000 taka ($ 750) dari tabungannya.

Kami bertemu pemilik toko dan suaminya, yang meminjam dari Grameen untuk membeli panel surya, serta memungkinkan mereka untuk memperluas toko mereka dan memberikan cahaya ke rumah bata yang mereka serta berbagi dengan tiga saudara dan mertua mereka.

Kami bertemu seorang wanita muda dengan beasiswa Grameen yang akan menjadi wanita pertama di keluarganya untuk sekolah ke perguruan tinggi. Dia mengambil jurusan ilmu komputer dan berencana untuk memulai bisnis di sektor TI yang akan mengubah lingkungannya.

Kami bertemu sepuluh perempuan yang duduk di dewan Grameen Bank, semuanya peminjam. Mereka marah pada pemerintah dan peduli terhadap masa depan bank. Pemerintah baru-baru menggulingkan Dr Yunus dari dewan banknya sendiri dengan alasan bahwa ia telah melewati usia pensiun wajib enam puluh tahun. Lalu, menemukan cara hukum lainnya dimana pemerintah dibujuk Parlemen  untuk mengubah undang-undang perbankan dengan tujuan  mengusir wanita miskin dari pemegang saham Grameen dan menggantinya dengan pendukung partai yang berkuasa. Para wanita tersebut takut, hal ini akan mengubah bank bernilai miliaran dolar yang telah membantu begitu banyak orang miskin menjadi sekadar penyandang dana tertentu untuk “kleptocrats” yang memanfaatkankannya.

Kami bertemu selusin wanita, banyak dari mereka pengacara, semuanya pemimpin LSM yang menangani masalah-masalah mendesak seperti hak-hak adat,kekerasan terhadap perempuan, perselisihan akibat mahar, pemerkosaan, dan keadilan lingkungan. Banyak yang telah ditangkap, dan banyak lagi hidup sehari-harinya di bawah ancaman. Satu orang mengatakan suaminya telah “menghilang” dari pekerjaannya. Mereka takut pasukan keamanan nasional, yang dikenal luas karena penculikan, penyiksaan dan eksekusi di luar hukum. Namun mereka tetap bangun di pagi hari, mencium anak-anak mereka dan suami mereka, dan kembali bekerja. Suatu rutin harian penuh keberanian yang dihadapi dengan tenang.

Kami bertemu dengan seorang wanita yang bekerja di runtuhan Rana Plaza  yang mengatakan dia tidak pernah ingin bekerja di industri pakaian lagi. Aku bertemu orang lain yang mengatakan hal yang sama, tetapi menambahkan, “Tapi kami miskin, dan harus bekerja.”

Mereka berada di antara kerumunan orang dan duduk di depan meja pendaftaran di kantor Klaim Administrasi Rana Plaza, kelompok nirlaba yang menangani pemulihan bagi para korban runtuhnya Rana Plaza. Ini adalah operasi mengesankan, diawaki oleh tim profesional yang berdedikasi dalam bidang tenaga kerja, hukum dan ilmu komputer. LSM ini mengelola pembayaran untuk setiap korban  luka fisik dan psikologis serta nilai tanggungan karena kehilangan pencari nafkah keluarga dalam tragedi tersebut. Pengusaha memiliki $ 17.000.000 untuk dibagikan, dimana kebutuhannya mendekati $ 40 juta, namun dana ini bersifat sukarela dan tidak ada hukum yang memaksa untuk membayar secara adil. Sementara beberapa pengusaha telah bermurah hati, banyak yang lain  menolak untuk berpartisipasi, karena tidak ada hukum yang memaksa mereka untuk melakukannya.

Kami bertemu Adil Rahman Khan, yang telah menyelenggarakan sebuah tim  monitor dan pembela di seluruh negeri untuk menyelidiki dan melaporkan pelanggaran hak suara; pemecahan masalah pada kebebasan berbicara;  penyiksaan, eksekusi di luar hukum, penghilangan, dan banyak lagi – sebuah pertanggungjawaban pemerintah atas kegagalan untuk melindungi kebebasan orang-orang Bangladesh dengan biaya yang begitu besar 40 tahun yang lalu. Adil berusaha memperthakan akuntabilitas di negara di mana ada 197 perwira anti-korupsi yang saat ini sedang diselidiki. Atas perbuatannya, Adil hidup di bawah ancaman konstan atas kematian. Tahun lalu, setelah mengeluarkan laporan yang mendokumentasikan pembantaian oleh pasukan pemerintah pada 61 pemrotes, dia dibawa pergi dan ditahan tanpa pengadilan selama 62 hari di sel kotor, sarat dengan kutu dan makanan busuk.

Betapa bangganya Paman Teddy yang akan tahu bahwa orang ini, yang melambangkan semua nilai-nilai yang dia dan Kakek Bobby begitu kagumi, akan menerima penghargaan Robert F. Kennedy Human Rights akhir tahun ini.

Dan, tentu saja, kami bertemu dengan sahabat saya Dr Yunus. Dia mengundang kami untuk datang ke Dhaka pada Hari Kerja Sosial, di mana orang-orang dari sejumlah negara di seluruh dunia berkumpul untuk berbagi desain dan pengalaman mereka menciptakan bisnis yang selain mencari keuntungan bagi para pemegang saham juga menjadi solusi untuk masalah seperti perumahan atau akses pangan.

Kamu masih memakai popok ketika Dr Yunus datang ke rumah kita hampir 15 tahun yang lalu dan saya mewawancarainya untuk buku saya Speak Truth to Power. Saya selalu dikejutkan oleh rasa damai dan sukacita ketika ia menyampaikan sesuatu dalam banyak kuliah saya sejak melihatnya. Tapi aku lebih menghargai bagaimana luar biasanya hal itu sampai aku melihatnya di Bangladesh. Dia berada di bawah tekanan tak henti-hentinya dari pemerintah yang berusaha untuk menghancurkan semua yang ia telah berikan hidupnya untuk membangun Bangladesh. Namun ia bertahan, dan mengajak kita untuk bagaimana menemukan kedamaian di tengah-tengah kekacauan dalam hidup kita dan menemukan sukacita melalui pengabdian. Landasan hidupnya mengingatkan saya pada baris-baris dari puisi Rudyard Kipling “Jika”:

Jika Anda bisa tahan mendengar kebenaran Anda sudah bicara
Dipelintir oleh merka untuk membuat perangkap bagi orang bodoh,
Jika Anda dapat melihat hal-hal yang Anda berikan untuk hidup Anda rusak,
Dan membungkuk dan membangunnya dengan peralatan usang …

Jika Anda dapat berbicara dengan orang banyak dan menjaga kebajikan Anda,
Atau berjalan dengan para raja – dan kehilangan sentuhan kebaikan …

Jika Anda dapat mengisi satu menit kehidupan yang tak dapat dimaafkan
Dengan nenam puluh detik berlari jarak jauh,
Anda adalah bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya …

Dengan ukuran ini, Dr Yunus telah mencapai dunianya.

Ada sebuah tempat, ada negara yang menakjubkan. Seperti kita di Amerika merayakan Hari Kemerdekaan kita sendiri, saya berharap kita bisa mengambil inspirasi dari orang-orang Bangladesh dan mendedikasikan kembali diri kita untuk demokrasi dan kebebasan, mengetahui bahwa harganya mungkin tinggi, tetapi pengorbanannya sangat baik  dan berharga.

Dengan cinta, ibumu

Dikutip dari: http://www.huffingtonpost.com/kerry-kennedy/in-bangladesh-the-steady_b_5554876.html

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=LFPnT1n8-n0]

Leave a Reply