Keutamaan Ibadah Haji, Prioritas Yang Tertukar dan Kesetimbangan Kesempatan

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Aal-Imran: 96)

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Aal-Imran: 96)

Keutamaan Ibadah Haji

Kita selalu bertanya-tanya, kenapa ibadah haji ditempatkan pada urutan terakhir dalam rukun Islam atau menjadi bagian dari kesempurnaan Islam. Apakah dikarenakan biayanya yang mahal, waktunya yang lama atau jaraknya yang jauh. Padahal itu semua bersifat fisik dan relatif, tergantung kondisi dan domisili yang mengerjakannya. Oleh karena itu, kita berusaha mencari hikmah dan pelajaran yang penting dari perjalanan ibadah haji tersebut.

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu. Allah SWT berfirman:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Al-Imran: 96).

Menurut pendapat yang masyhur, haji mulai diwajibkan kepada umat Islam pada tahun 6 H. Rasulullah SAW sendiri hanya sekali melaksanakan

Dimana saat ini banyak orang tua, saudara, teman dan handai taulan kita dari Indonesia sedang menjalankan ibadah haji…Mereka semua terpilih dari ratusan juta umat muslim negeri ini yang Alhamdulillah telah dikarunia oleh Allah SWT dengan tiga hal yaitu : Niat, Kuat dan Sempat.

Prioritas Yang Tertukar

Dalam keadaan seperti sekarang, sepertinya Ibadah Haji menjadi prioritas nomor sekian dari banyak orang. Pengalaman pribadi, ukuran mampu ini menjadi “subyektif” karena pada saat menunaikan haji tahun 1422 H (2001 M) saya bertemu dengan seorang bapak dari Indramayu pada saat melaksanakan Ibadah Jumrah di Mina….cobak simak ceritanya (summarize):

…..”Saya menunaikan ibadah haji karena merasa inilah adalah salah satu tujuan utama hidup….Biaya haji saya kumpulkan dari menjual kebun mangga di Indramayu karena anak-anak sudah berkeluarga…..Dia menjawab dan yakin bahwa setelah kembali dari Ibadah Haji akan menjadi buruh tani dan mengabdikan diri hanya beribadah pada Allah SWT”….

Kelihatannya “exxagerated”, namun bercermin dari hal yang agak ekstrim ini mungkin kita bisa bercermin dan menghitung “Cash Flow dan Balance Sheet” apakah sudah sampai Nisab untuk melaksanakan Ibadah Haji.

Saat ini komponen waktu menjadi penting bagi kita…Semua prioritas didasarkan pada variabel ini. Aktifitas kita dibidang ibadah, pekerjaan, keluarga, pendidikan, kehidupan bermasyarakat dan lain-lain hanya mempunyai kurun waktu 24 jam sehari yang tidak bisa ditambah atau dikurangi……So…Kita hanya bisa melakukan Ibadah Haji bilamana kita “menyempatkan diri” dan punya komitmen untuk melaksanakan ibadah ini…Prioritas perlu dipikirkan sejak awal agar kita Tawaddu dan siap melaksanakan ibadah besar ini….

Kesetimbangan Kesempatan

Dengan segala keutamaan yang dimiliki haji, praktik dan penyelenggaraannya ternyata tidak mudah. Masih banyak kelemahan dan kekeliruan mendasar umat Islam dalam melaksanakan ibadah haji. Salah satunya adalah masih banyaknya masyarakat yang mengerjakan haji berkali-kali. Padahal, setelah haji pertama, haji menjadi amalan sunnah yang tidak lebih utama dari banyak amalan lain.

Fenomena ini mendapat kritikan tajam dari Prof KH Ali Mustofa Ya`qub, Imam Besar Masjid Istiqlal. Menurutnya, meski orang yang menunaikan ibadah haji yang bukan wajib tetap dijanjikan surga bila hajinya mabrur. Tapi surganya masih tidak sebanding dengan penyantun anak yatim, misalnya.

“Coba tengok, bagi mereka yang menyantuni yatim piatu”.

Rasulullah bersabda:

“Aku dan penyantun anak yatim seperti ini di surga (sambil menunjukkan dua jarinya).”

Artinya jelas, bahwa penanggung anak yatim nantinya akan berkumpul dengan Rasulullah di surga. Tentu surga yang dihuni Rasulullah adalah surga yang kelasnya tertinggi melebihi jatah siapa pun

Bahkan Rasulullah sendiri menunaikan haji cuma sekali dan umrah empat kali. Pasalnya, Rasulullah pada waktu itu berkesempatan untuk ibadah haji sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 8, 9, dan 10 Hijriyah.

“Beliau melaksanakan ibadah haji hanya satu kali dan melakukan umrah empat kali yang kesemuanya itu dilakukan pada bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang bersama ibadah haji,”

kata Guru Besar Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta ini, seperti dikutip detiknews.com.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=If1tqlbHBxY]

Leave a Reply