Toleransi di Indonesia adalah sesuatu yang “Blink-blink”

Saat ini tema Toleransi di Indonesia adalah sesuatu yang “Blink-blink”…….

Pengalaman sebagai manusia biasa yang bertetangga, punya teman sekolah/kampus, serta kolega bekerja di BUMN / Perusahaan multinasional / Profesi Pendidik dan komunitas Pojok Pendidikan saya merasakan, berfikir dan bertindak bahwa toleransi bukan hanya ranah Psikologi kognitif ….. Itu sudah masuk ke Pedagogik, Sosial,Psikomotorik, kepribadian & Profesional bahkan Afektivitas…..

Toleransi bukan ranah logika teoritis / Logical Theory, namun seni berperilaku / Artistic Behaviour pada Keyakinan dan kepercayaan seorang mahluk yang diciptakan Yang Maha Kuasa ……

Tolerate yang menjadi akar kata Tolerance (toleransi), oleh New Oxford American Dictionary diartikan kira-kira “mampu menanggung sesuatu (yang buruk) tanpa efek buruk”. Kalau diartikan lebih bebas, toleransi berarti: kemampuan menerima suatu “Penyimpangan dan Pelanggaran” (dari kondisi ideal / The Ideal Condition) tanpa terjadinya efek yang buruk.

Artinya Toleransi bukan suatu standarisasi ….. Bukan pula nilai yang naik turun sesuai “Perdagangan Bebas” serta jangan sampai menimbulkan “efek buruk / Bad Effect” dari semua sisi Kemanusiaan……

Dikutip dari  Tempo, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan toleransi umat beragama di Indonesia lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Tak heran jika Indonesia sering menjadi rujukan negara lain untuk belajar menjalankan toleransi.

Kalla mengatakan hal itu saat berbicara di depan ratusan pemuda dari berbagai negara dalam acara ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU), Jombang, Jawa Timur, Minggu, 29 Oktober 2017. Dia memaparkan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

JK mengatakan ada banyak peninggalan dari para pendiri bangsa yang menunjukkan bagaimana toleransi antarumat beragama di Indonesia terjalin. Contohnya soal peringatan hari raya keagamaan yang diakui sebagai hari libur nasional, meski jumlah penganut agama tersebut sedikit.

“Buddha yang pemeluknya hanya satu persen pun ada hari rayanya. Ini tidak terjadi di negara lain di dunia ini,” kata JK. Dia membandingkan kenyataan ini dengan negara-negara lainnya, misalnya Cina dan Thailand. “Di Cina, di Thailand yang mayoritas Buddha dan Hindu ada enggak Idul Fitri? Enggak ada,” ujar JK.

Di negara ASEAN lainnya, yaitu di Filipina, kata JK, penetapan Idul Fitri sebagai hari libur nasional juga baru-baru saja dilakukan, pada 3-4 tahun lalu.

Selain soal penetapan hari raya keagamaan, JK melanjutkan, pengakuan keragaman juga ada pada susunan kabinet yang dibentuk pemerintah. Menteri-menteri di Indonesia menganut agama yang berbeda-beda. Begitu pula di tingkat daerah. Meski mayoritas penduduk beragama Islam, ada sejumlah provinsi yang dipimpin gubernur dari nonmuslim. Itu menandakan bahwa Indonesia tidak membeda-bedakan pemeluk agama. Generasi muda perlu memahami bagaimana membina toleransi dan harmoni tersebut.

Menurut JK, toleransi dan harmoni di antara umat beragama bisa terbangun bila satu sama lain saling mengenal. “Setelah saling memahami, respect each other,” katanya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.