Konflik Perairan Laut China Selatan Bukan Hanya Masalah Perikanan

Kita di Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) harus menyadari konflik Perairan Laut China Selatan bukan hanya masalah Perikanan seperti diungkapkan oleh Ibu Susi pujiastuti ….. Republik Rakyat Tiongkok memang sangat berkepentingan dengan masalah pangan untuk penduduknya yang berjumlah 1,357 miliar (2013) …..

Namun tidak hanya itu, Laut China Selatan telah berubah jadi arena unjuk kekuatan Negara Super Power lain seperti Rusia dan Amerika Serikat di Timur Jauh karena begitu strategis …. Mulai dari Geopolitik, Geoeconomics sampai Strategic defence, wilayah tersebut menjadi The Last Frontier bagi bangsa-bangsa di dunia untuk memulai Benturan Peradaban seperti digambarkan sebagai berikut:

“The South China Sea functions as the throat of the Western Pacific and Indian oceans—the mass of connective economic tissue where global sea routes coalesce. Here is the heart of Eurasia’s navigable rimland, punctuated by the Melaka, Malaysia, Sunda, Lombok and Makassar Strait. Indonesia. More than half of the world’s annual merchant fleet tonnage passes through these choke points, and a third of all maritime traffic worldwide.”
― Robert D. Kaplan, Asia’s Cauldron: The South China Sea and the End of a Stable Pacific Rim

Pengamat dari Universitas Nanyang, Singapura, Ralf Emmers, mengatakan krisis Laut China Selatan bukan lagi sekadar konflik sengketa wilayah, tapi sudah berkembang jadi arena pertarungan negara-negara kekuatan dunia, terutama Amerika Serikat (AS) dan China.

“Konflik Laut China Selatan memang masih menjadi masalah perebutan wilayah, tapi juga telah berkembang menjadi arena pertarungan politik kekuatan dunia,” kata Emmers.

“Ini menjadi kritis, karena bukan hanya hubungan antara AS dan negara di kawasan untuk mempromosukan perdamaian dalam kondisi kurang stabil, tapi juga ketika hubunggan itu semakin kompetitif. Ini akan mempengaruhi keamanan di seluruh wilayah, termasuk di Laut China Selatan,” lanjut dia.

“Kawasan ini mejadi cerminan dari peralihan kekuaasan, dan di sisi lain kami melihat masih sedikitnya pihak yang membahas hal ini. Jadi itu, tentu saja sangat signifikan,” imbuh dia.

Menurutnya, konflik di Laut China Selatan saat ini bukan hanya menjadi masalah regional, tapi juga sudah berubah menjadi masalah internasional. Selain itu, perseteruan antara AS dan China semakin membuat sulit upaya perdamaian di kawasan itu,

“Laut China Selatan di sisi lain juga soal kebebasan bernavigasi, pelayaran komersial, dan tentu saja meningkatnya aktivitas militer di kawasan,” katanya.

“Seperti kita lihat dengan berkembangnya perseteruan kekuatan dunia, ini membuat upaya perdamaian menjadi lebih sulit. Kita harus ingat bahwa Laut China Selatan bukan sesuatu yang bisa kita lihat sebagai wilayah yang terisolasi, ini juga adalah bagian dari masalah politik di wilayah ini, dan sebagian pihak berpendapat kawasan ini juga berhubungan dengan masalah yang terjadi di Laut China Timur,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.