Seorang Kakek Duduk Termenung di Sebuah Pompa Bensin Singaparna

Seorang Kakek duduk termenung di sebuah pompa bensin Singaparna.

Seorang Kakek duduk termenung di sebuah pompa bensin Singaparna.

Seorang Kakek duduk termenung di sebuah pompa bensin Singaparna….. Sekilas kulihat dia menjual kacang Bogor yang masih penuh di kantung nya… Bukan kacang Bogor kesukaan yang mengusikku…. Namun tatapannya yang memelas berharap seseorang membeli padanya….

Seketika hati, pikiran dan tindakan bawah sadar menyadarkan ku… Kubeli beberapa bungkus dengan tambahan uang sekedarnya… Kuucapkan doa agar usahanya barokah…..

Ketika kembali ke mobil kulihat ia menengadahkan tangannya.. Ia berdoa sambil melihat plat nomor mobil sahabat ku.. Kejadian tersebut mengingatkan ku bahwa kemanusiaan bukan hanya masalah besarnya pemberian…. Namun bagaimana kita selalu ingat akan “Moment of Truth” Kemanusiaan….

Jadi teringat kedua kakekku berasal dari Pagerageung. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.

Kenangan pribadi yang menonjol dengan beliau adalah pada saat naik haji, saya mengantar sampai dengan Pelabuhan Tanjung Priuk – Jakarta dengan naik Kereta Gandeng (Anhang) dari Pagerageung – Tasikmalaya. Suatu perjalana yang mengasyikkan, rasanya seperti Karl May atau Huckleberry Finn yang melakukan perjalan penuh bahaya menuju “The Last Frontier” terutama karena saya dan sepupu duduk di atas peti-peti kayu (Sahara) untuk bekal kakek dan nenek di Tanah Suci. Kenangan lainnya adalah bila pulang mudik, saya selalu ikut “Kursus Kilat Mengaji” dimana kakek bertindak sebagai Tutor. Bila sepupu lain kena sentil “Sapu Nyere” bila salah melafalkan ayat suci Al-Qur’an, maka saya belum pernah mengalaminya 🙂

Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman “Noormal”. Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha – Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaanya.

Kenangan pribadi dengan beliau adalah kesederhanaan, keramahan dan kesejukan seorang kakek. Beliau tidak mau tinggal di rumah dinas, sampai-sampai menolak tinggal di peruamahan PLN di Jalan Ciateul – Bandung, karena tidak ingin anak cucunya “terusir” dari rumah tersebut. Seperti kita tahu banyak dari rumah dinas tersebut bisa dimiliki oleh pegawai, namun tidak ada penyesalan dari beliau yang sampai akhir hayatnya tinggal di “Rumah Buruh” (Woneng) …… Suatu sikap integritas yang selalu saya ikuti sampai sekarang. Selain itu setiap selesai sholat Jum’at beliau datang ke rumah kami (jaraknya hanya ~100 meter) untuk bersilaturahmi dan mengecek keadaan anak cucu beliau.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.