Semua yang saya inginkan, semua yang saya harapkan adalah karena Ibuku

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, lensa kaca mata dan dekat
“Semua yang saya inginkan, semua yang saya harapkan adalah karena Ibuku,” kata Marc Mero, seorang mantan juara dunia gulat, mengekspresikan & menggambarkan ibunya. “Kau sangat mencintaiku, kau memberiku hidup, Kau satu-satunya yang percaya padaku.”

“Jika Anda memiliki seorang ibu atau ayah, beritahu mereka betapa Anda mencintai mereka,” kata Mero. “Lihat, seluruh hidup saya tadinya adalah tentang menjadi kaya dan terkenal, hanya itu yang saya pedulikan. Saya harus memenangkan perlombaan dengan mengorbankan pernikahan, keluarga, dan teman-teman saya. Bukan kehidupan seperti itu yang kita inginkan. ”

Mero menyimpulkan dengan berbagi pelajaran yang dia pelajari dengan para siswa di auditorium. Dia mendesak mereka untuk bersikap “ramah satu sama lain” dan “berhenti dengan menyebut nama yang buruk dan menyakiti orang lain.”

“Saya belajar apa yang benar-benar penting, dan betapa berharganya hidup ini, dan seberapa cepat hal itu bisa segera diambil manfaatnya” kata Mero. “Saya tidak khawatir tentang hari esok, bukan apa yang ada di saku Anda yang penting, yang ada dalam hatimu yang benar-benar penting.”
Gambar mungkin berisi: 2 orang, topi, luar ruangan dan dekat

Teruntuk Ibuku tersayang yang pada dirinya cinta yang tulus itu datang untuk anak-anaknya. “Dalam lelahnya terbersit semangat. Dalam senyumnya terlantun doa. Dari seorang teristimewa bernama Ibu.” Aku bukan orang yang lahir dari keluarga berada, namun juga bukan dari golongan yang miskin. Hidupku sederhana, namun bahagia.

Semua karena orang tuaku yang menyayangiku. Terlebih lagi seorang Ibu. Bagiku Ibu adalah pelita harapanku. Disaat orang lain meremehkanku, disanalah Ibu datang menepuk pundakku dan berkata “Jangan menyerah nak, Ibu selalu mendukung keputusan baikmu”. Ibuku padanya lah aku belajar arti sebuah semangat dalam hidup.

Dalam prinsipnya bekerja asalkan itu baik, maka lakukanlah. Ibuku tak pernah menuntut anaknya untuk jadi sesuatu yang ia inginkan. Ia selalu bertanya kepada anaknya ingin jadi apa, maka kemudian ia akan mengiyakan setiap keinginan baik anaknya. Kemudian mendoakan keinginan anaknya, hingga kelak tercapai semua cita-citanya. Ibuku bekerja setiap hari sebagai ibu rumah tangga dan kadang jadi “pedagang telur” atau “pedagang batik” untuk membiayai makan dan sekolah anaknya, sesekali kami anaknya membantu namun tentu tidak akan dapat menandingi kasih sayang Ibu.

Saat kecil, setiap pagi Ibu bangun dini hari untuk mengambil telur dari ayam petelur di halaman belakang rumah kami, kemudian saya menjualnya di komplek rumah. Kata Ibu “Hidup itu harus dijalani dan disyukuri, walau banyak hambatannya.” Dinginnya pagi tidak menyurutkan langkah Ibu untuk bekerja. Udara dingin yang menusuk dipagi hari banyak membuat orang terlena untuk tidur kembali, namun tidak dengan Ibu. Walau dingin disertai hujan sekalipun Ibu akan tetap berangkat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu sering menerobosnya dengan memakai jas hujan yang sudah lusuh.

Kata Ibu “Jangan kalah sama hujan, kalau sakit tinggal minum obat”. Ibuku memang orang yang pantang menyerah. Hujan tidak akan menghalangi langkahnya untuk bekerja demi anak-anaknya. Ibu tidak pernah mengeluh kalau pekerjaannya berat, ia selalu tersenyum dihadapan anak-anaknya. Sesekali Ibu marah, namun marahnya Ibu hanya ingin anaknya bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kalau anaknya sakit, Ibulah yang pertama khawatir dan meneteskan air mata.

Ibu tak ingin anak-anaknya sakit. Dengan segera Ibu membawa kami ke puskesmas jika kami sakit. Ibu selalu berdoa setiap hari agar anaknya sehat selalu, sukses dan bisa membahagiakan keluarga kelak. Bagiku, Ibu adalah inspirasi semangat dalam hidup. Meski dalam segala keterbatasannya, Ibu selalu berusaha tampil menjadi sosok panutan bagi anak-anaknya. Ibu tak pernah menjadi perempuan yang malas-malasan. Aku selalu melihat Ibu yang selalu ingin bekerja dan giat mencari rezeki dalam hidupnya.

Kata Ibu “Kalau tidak bekerja rasanya tulang jadi rontok”. Aku kadang merinding mendengarnya. Bagi Ibu kalau tidak bekerja malah membuat dirinya cepet sakit dan tua. Memang aku merasakan sendiri semangatnya jika Ibu bekerja, kesan lelah tidak nampak saat bekerja. Kalau bekerja Ibu malah terlihat lebih muda dan bersemangat. Doa Ibu disetiap malam adalah sumber kekuatanku menjalani hidup. Setiap jalan seakan mudah jika diiringi dengan doanya. Hidup memanglah tidak mudah, namun dengan doa Ibu semua terasa ringan untuk dijalani.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.