Tantangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Bencana Tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Pulau Nias tahun 2004

SBY dan Persoalan Pelik dalam Penanganan Pasca Tsunami Aceh

SBY dan Persoalan Pelik dalam Penanganan Pasca Tsunami Aceh

In my humble opinion (Imho). Tantangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Bencana Tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Pulau Nias tahun 2004 lalu sangat kompleks.

Ada beberapa faktor yang perlu beliau putuskan dengan cepat namun cermat saat itu, yaitu:

1. Musibah saat itu sangat masif:

Gelombang Tsunami Desember 2004 dicatat sebagai bencana alam terparah selama sejarah modern. “Sebuah peristiwa dengan dimensi tak terbayangkan, ditinjau dari aspek jumlah korban, maupun dari aspek geologis”, tulis National Science Foundation (NSF), salah satu lembaga ilmiah paling bergengsi di Amerika Serikat.

Gelombang raksasa terjadi setelah gempa bumi di bawah laut, sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra, pukul 07.59 waktu setempat. Pusat gempa ada pada kedalaman sekitar 30 kilometer di bawah dasar laut. Ada dua lempeng kontinental yang bertumbukan. Tekanan-tekanan hebat kemudian menyebabkan salah satu lempeng bergeser ke bawah lempeng yang lain. Itu yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, pada garis sepanjang 1000 kilometer. Ini peristiwa yang sangat jarang terjadi.

Gempa bumi yang diakibatkan berlangsung sampai 10 menit. Biasanya, gempa semacam ini hanya berlangsung beberapa detik saja. Menurut berbagai perhitungan, kekuatan gempa saat itu mencapai 9,1 sampai 9,3 pada skala Richter, dan merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir.

Salah satu lempeng kontinental bergeser naik sampai 15 meter, jadi bergerak vertikal. Itu merngakibatkan dasar laut di beberapa tempat bergerak naik sampai 10 meter. Hal itulah yang membuat permukaan laut di lokasi naik secara tiba-tiba. Air yang terdorong kemudian membentuk gelombang besar, yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, secepat pesawat jet, dan bergerak ke arah pantai. Di daerah laut dalam, air yang bergerak cepat ini tidak terlalu terasa di permukaan. Tetapi menuju daerah pantai yang makin landai, gelombang akan bergulung makin tinggi. Di daerah pantai Sumatra, tinggi gelombang sudah mencapai sekitar 30 meter.

Di Samudra Hindia, dari Sumatra sampai Kepulauan Andaman, Thailand, India Selatan, Sri Lanka dan sebagian Afrika, ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara. Kerusakan terparah terjadi di Sumatra, dengan sekitar 170.000 korban tewas. Semua bangunan di daerah pantai hancur, di beberapa tempat sampai jarak lima kilometer di darat. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

2. Konflik Berkepanjangan dengan GAM ( Gerakan Aceh Merdeka ):

Secara luas di Aceh, agama Islam yang sangat konservatif lebih dipraktikkan. Hal ini berbeda dengan penerapan Islam yang moderat di sebagian besar wilayah Indonesia lain. Perbedaan budaya dan penerapan agama Islam antara Aceh dan banyak daerah lain di Indonesia ini menjadi gambaran sebab konflik yang paling jelas. Selain itu, kebijakan-kebijakan sekuler dalam administrasi Orde Baru Presiden Soeharto (1965-1998) sangat tidak populer di Aceh, di mana banyak tokoh Aceh membenci kebijakan pemerintahan Orde Baru pusat yang mempromosikan satu ‘budaya Indonesia’. Selanjutnya, lokasi provinsi Aceh di ujung Barat Indonesia menimbulkan sentimen yang meluas di provinsi Aceh bahwa para pemimpin di Jakarta yang jauh tidak mengerti masalah yang dimiliki Aceh dan tidak bersimpati pada kebutuhan masyarakat Aceh dan adat istiadat di Aceh yang berbeda.

Pemberontakan di Aceh dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memperoleh kemerdekaan dari Indonesia antara tahun 1976 hingga tahun 2005. Operasi militer yang dilakukan TNI dan Polri (2003-2004), beserta kehancuran yang disebabkan oleh gempa bumi Samudra Hindia 2004 menyebabkan diadakannya persetujuan perdamaian dan berakhirnya pemberontakan.

Kala itu, gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakan Aceh dan Nias menyatukan TNI dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan berjibaku menyelamatkan seluruh korban jiwa.

“Dan saya juga ingat, ketika tsunami dan gempa bumi menghantam Aceh dan Nias, waktu itu saudara-saudara masih ingat, masih dalam situasi operasi militer. Negara menghadapi saudara-saudara kita di pihak GAM,” ungkap SBY lewat channel Youtube miliknya @SusiloBambangYudhoyono pada Minggu (30/9/2018) malam.

“Maka karena hari pertama saya masih di Jayapura, hari kedua sampai di Lhoksemawe, pak Jusuf Kalla ada di Banda Aceh, saya serukan untuk melakukan semacam gencatan senjata kepada pihak GAM dan tentunya pihak TNI sendiri,” tambahnya

3. Dilema Bantuan Asing:

Banyak sekali kontingen militer negara sahabat yang telah berada di sekitar Aceh dan Nias, dan juga yang telah bersiap di negaranya untuk segera berangkat ke Indonesia. Persoalannya, sebagaimana halnya bantuan internasional, ada yang alergi dan bahkan menolak kehadiran militer asing tersebut.

Alasannya bermacam-macam. Katanya Indonesia, khususnya Aceh, akan menjadi sasaran intelijen asing. Juga dikhawatirkan tentara asing itu akan membantu GAM. Dan masih ada sejumlah alasan.

Dengan tegas SBY katakan kekhawatiran itu tidak perlu ada. Di dunia ini tindakan membangun sebuah negara yang mengalami musibah bencana alam itu amat biasa. Atas dasar itu, dengan tegas saya mengizinkan kehadiran kontingen tentara negara sahabat itu dengan catatan mereka tetap dibawah kendali Indonesia, khususnya pemerintah dan pimpinan TNI.

Ternyata apa yang dilakukan oleh tentara asing itu amat menguntungkan kita. Alutsista dan perlengkapan untuk mengatasi bencana lebih lengkap. Mereka banyak membantu pelaksanaan operasi tanggap darurat. Tidak ada yang melakukan operasi intelijen. Tidak ada yang membantu GAM. Bahkan mereka memiliki pandangan yang baik terhadap TNI kita yang dinilai profesional, bersahabat dan tidak ada wajah represif sebagaimana yang dicitrakan selama ini.

Saat itu, saya sendiri sangat khawatir dengan kedatangan lebih dari 14 ribu personel tentara AS beroperasi di lepas pantai Sumatera untuk memberikan bantuan pada penghujung tahun 2004 itu. Mereka juga mengerahkan 57 helikopter untuk menjalani ratusan misi kemanusiaan. 14 pesawat masing-masing 3 buah pesawat Hercules C-130 Sky Hawk disiagakan di Medan, 4 buah Hercules C-130 di Lanud Halim PK Jakarta dan 7 buah pesawat Helikopter di Lanud SIM Banda Aceh. Perancis mengerahkan 5 buah pesawat masing-masing 1 pesawat C-160 di Lanud Medan dan 4 buah Helikopter Puma. Jepang 1 pesawat Hercules C-130/35-1072 di Lanud SIM Banda Aceh. New Zeland 1 pesawat Kiwi 790 di siagakan di Halim PK Jakarta. Jerman 2 buah Helikopter Sea King. Australia 4 buah pesawat Bell 205 Iroquios.

AS mengerahkan juga armada kapal induk Abraham Lincoln, yang terdiri dari kapal Induk USS Shiloh, kapal perusak USS Benfold langsung dari San Diego, AS yang dipimpin Laksamana Muda Doug Crowder. Operasi mereka bukan hanya dalam angkutan udara saja, tetapi juga dalam membangun prasarana dan memberi bantuan kesehatan.

Namun, pemerintah saat itu tetap meminta militer asing segera angkat kaki dari Aceh, ketika itu JK merasa yakin infrastuktur yang rusak akibat tsunami bisa segera diperbaiki. Bagi JK, larangan tersebut hanya berlaku bagi militer asing, sedangkan relawan masih dibolehkan melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Ketika itu, JK memperkirakan seluruh fasilitas transportasi darat akan selesai, biaya pengerahan prajurit TNI pun dinilai lebih murah.

Kedatangan militer asing ini dilakukan karena Indonesia membutuhkan transportasi udara, apalagi situasi medan setelah tsunami membuat pasokan bantuan ke daerah-daerah terparah menjadi sulit.

Akhirnya memang pelan-pelan pasukan asing meninggalkan Bumi Rencong. Setelah operasi kemanusiaan berjalan lancar, tak ada alasan lagi berada di Indonesia

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.