Rokok, Kenapa Kamu Suka Menohok?

Rokok, Kenapa Kamu Suka Menohok?

Rokok, Kenapa Kamu Suka Menohok?

Saya bersyukur banget, di rumah saya tidak ada yang merokok. Di tulisan ini saya memutuskan untuk tidak membahas secara ekstrim bahaya merokok dari segi kesehatan para perokok. Mereka sudah cukup pintar untuk membaca sendiri dari berbagai literatur apa saja bahaya merokok.

Melihat dan menyaksikan iklan rokok di media sosial dan TV sekarang makin menjadi-jadi seperti operasi intelijen yang masif. Sepertinya industriawan dan usahawan rokok sedang melakukan serangkaian serangan mematikan seolah-olah rokok adalah bahan pokok yang harus dipertahankan sampai akhir zaman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa Wabah tembakau merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang pernah dihadapi dunia. Menewaskan lebih dari 7 juta orang per tahun. Lebih dari 6 juta kematian tersebut adalah hasil penggunaan tembakau langsung sementara sekitar 890.000 merupakan hasil dari perokok non-perokok yang terpapar asap rokok bekas.

Hampir 80% dari lebih dari 1 miliar perokok di seluruh dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana beban penyakit terkait tembakau dan kematian terberat.

Pengguna tembakau yang meninggal sebelum waktunya menggerogoti pendapatan keluarga mereka, menaikkan biaya perawatan kesehatan dan menghambat pembangunan ekonomi.

Di beberapa negara, anak-anak dari rumah tangga miskin sering bekerja di pertanian tembakau untuk memberikan pendapatan keluarga. Anak-anak ini sangat rentan terhadap “penyakit tembakau hijau”, yang disebabkan oleh nikotin yang diserap melalui kulit dari penanganan daun tembakau basah.

Ada juga cerita lain yang sempat viral di media sosial. Saya lupa sumbernya dari mana, tapi kisah ini tentang ayah yang menyesal karena merokok dan membuat anaknya yang masih bayi meninggal dunia. Sang Ayah tidak pernah sekalipun merokok di dalam rumah, tidak pernah sekalipun merokok di depan anaknya. Ia selalu mencuci tangan ketika pulang dari kantor, sebelum kemudian menggendong anaknya sambil melepas rindu.

Ternyata, sisa-sisa asap racun yang dikonsumsi sang ayah tak hanya menempel di tangan yang sudah dicuci. Asap juga menempel di pakaian Sang Ayah, yang belum sempat diganti ketika menggendong anaknya.

Akhirnya Sang Ayah pun menyesal telah menjadi perokok yang mementingkan kenikmatan pribadi lebih dari kesehatan sang anak.

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.