Category: Kebijakan

President Fidel Ramos: “This is the challenge to our leadership today to work together for the common good and the national welfare”

Presiden Fidel Ramos received Token as inspiring Keynote Speaker at the 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management which I attended and held on January 25-26, 2012 in Manila, Philippines.

Fidel “Eddie” Valdez Ramos, GCMG (born March 18, 1928), popularly known as FVR, was the 12th President of the Philippines from 1992 to 1998. During his six years in office, Ramos was widely credited and admired by many for revitalizing and renewing international confidence in the Philippine economy.

Prior to his election as president, Ramos served in the Cabinet of President Corazon Aquino first as chief-of-staff of the Armed Forces of the Philippines (AFP), chief of Integrated National Police, and later on, as Secretary of National Defense from 1986 to 1991.

During the historic 1986 EDSA People Power Revolution, Ramos upon the invitation of then Defense Minister Juan Ponce Enrile, was hailed as a hero even though he was not part of the plan by many Filipinos for his decision to breakaway from the administration of the late strongman Ferdinand Marcos and pledge allegiance and loyalty to the newly established government of President Aquino.

Under Ramos, the Philippines experienced a period of political stability and rapid economic growth and expansion, as a result of his policies and programs designed to foster national reconciliation and unity. Ramos was able to secure major peace agreements with Muslim separatists, communist insurgents and military rebels, which renewed investor confidence in the Philippine economy. Ramos also aggressively pushed for the deregulation of the nation’s major industries and the privatization of bad government assets. As a result of his hands-on approach to the economy, the Philippines was dubbed by various internationally as Asia’s Next Economic Tiger.

However, the momentum in the economic gains made under his administration was briefly interrupted during the onset of the 1997 Asian Financial Crisis. Nevertheless, during the last year of the term, the economy managed to make a rebound since it was not severely hit by the crisis as compared to other Asian economies. He also oversaw the Philippine Centennial Independence celebrations in 1998.

Telepon Seluler dan Budaya Terbang: Bukan Hanya Masalah Uang, Namun Juga Pikiran Yang Timpang

Dalam dunia penerbangan, khususnya angkutan udara 聽menghadapi dua hal yang harus sama-sama dipenuhi. Pertama dari aspek kinerja keselamatan yang harus menjadi perhatian semua pihak terkait, tidak saja internal perusahaan penerbangan, tapi juga dukungan total dari pengelola bandara dan pemakai jasa…

Engineers … are not superhuman. They make mistakes in their assumptions, in their calculations, in their conclusions. That they make mistakes is forgivable; that they catch them is imperative. Thus it is the essence of modern engineering not only to be able to check one’s own work but also to have one’s work checked and to be able to check the work of others.
Henry Petroski
To Engineer Is Human. Engineers Creed

Di Bawah Lindungan Ka’bah: Kisah Cinta Tak Sampai Hamid dan Zainab

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah novel sekaligus karya sastra klasik Indonesia yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Hamka. Novel ini diterbitkan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia-Belanda.
Novel ini menceritakan tentang kisah percintaan antara Hamid dan Zainab, yang sama-sama jatuh cinta tetapi terpisah mulai dari karena perbedaan latar belakang sosial hingga Zainab yang dihadapkan oleh permintaan ibunya agar menikah dengan laki-laki yang telah dipilihkan. Pada akhir cerita, Hamid memutuskan pergi ke Mekkah, kemudian terus beribadah hingga akhirnya meninggal di hadapan Ka’bah setelah mengetahui Zainab meninggal.
Novel ini disambut baik dari berbagai kalangan, bahkan hingga saat ini telah diadaptasikan menjadi film sebanyak dua kali, masing-masing dengan judul yang sama yaitu pada tahun 1981 dan 2011.

Plot Cerita:

Hamid merupakan Muslim kelahiran Minangkabau, Sumatera yang hanya dibesarkan oleh ibunya sejak berusia empat tahun, karena pada saat itu ayahnya telah meninggal. Ketika berusia enam tahun Hamid disekolahkan oleh Haji Ja’far bersama anak perempuannya yang bernama Zainab di sekolah yang sama. Setelah menamatkan pendidikan masing-masing di sekolah Hindia-Belanda, Hamid dan Zainab mulai jatuh cinta tetapi sama-sama tidak mengutarakannya hingga kemudian terpisah karena Hamid memutuskan pindah dari Padang ke Padang Panjang untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah agama. Namun sejak ayah Zainab meninggal, yang disusul dengan meninggalnya ibu Hamid, mereka telah jarang bertemu. Dalam suatu pertemuan, Hamid dihadapkan oleh permintaan ibu Zainab, Asiah untuk membujuk anaknya menikah dengan sepupunya. Permintaan ibu Zainab itu dijalankan oleh Hamid mengingat ibunya semasa hidup juga tidak mengizinkannya menikahi Zainab karena perbedaan kelas sosial. Hamid kemudian mengalami patah hati akibat keputusan yang diambilnya, lalu memutuskan pergi ke Mekkah.
Setelah setahun berada di Mekkah, Hamid yang mulai menderita penyakit bertemu dengan Saleh. Istri Saleh, Rosna adalah teman dekat Zainab sehingga Hamid dapat mendengar kabar tentang Zainab, termasuk kenyataan bahwa Zainab mencintai dirinya dan Zainab tidak jadi menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Hamid berniat untuk kembali ke Padang usai menunaikan ibadah haji. Pada saat bersamaan Saleh melalui istrinya mengirimkan surat untuk diberikan kepada Zainab yang isinya menggambarkan pertemuannya dengan Hamid. Namun Saleh mendapat balasan dari istrinya bahwa Zainab telah meninggal dunia; Saleh tidak memberikan kabar tersebut kepada Hamid sebelum akhirnya Hamid mendesaknya. Kenyataan itu disusul dengan meninggalnya Hamid di hadapan Ka’bah.

Mempunyai Anak Seperti Naik Roller Coaster?

Tidak biasanya聽PhD (Piled Higher and Deeper) Comic strips聽membuat komik perihal “Peran Orang Tua” 馃榾 Suka聽路聽聽路聽Promosikan聽路聽Bagikan Mamiek Syamil聽menyukai ini. Mamiek Syamil聽Kayak naik roller coaster:)… 50 menit yang lalu聽路聽Batal Suka聽路聽1 Djadja Sardjana聽Kalau istilah nelayan dan BMKG….Seperti naik perahu dengan ketinggian ombak ~4…

RSBI dan SBI: Antara “Split Personality” dan “Kacang Yang Lupa Pada Kulitnya”

  Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat…

Hubungan “Kasih Ibu Kepada Beta”, Pendampingan Guru Se-Jawa Barat dan Rangking Satu

“Kasih Ibu Kepada Beta” Kemarin adalah Hari Ibu ……. Hubungan “Kasih Ibu Kepada Beta” memang dekat. Seiring waktu kasih sayang itu makin besar dan saya ungkapkan dengan puisi sebagai berikut: Semenjak kakiku melangkah ke bumi Ada satu hal yang selalu…

Kekerasan di Sekolah: Antara Proses Peniruan, Hilangnya Ketauladanan dan “Teori Kekacauan”

Menurut Nel Nodding dari Universitas Stanford聽(Pengarang buku 鈥淗appiness and Education鈥): 鈥淜enyataan bahwa arti Kebahagian dan Pendidikan tampaknya akhir-akhir ini semakin berlawanan,聽salah satu motif untuk menanganinya secara baik dan menjadi terkait erat. Kebahagiaan harus menjadi tujuan pendidikan, dan pendidikan yang baik…

Gerakan Anti Korupsi dan Kesadaran Pendidikan Manusia Yang Memanusiakan

Korupsi Dan Pergulatan Kekuasaan   Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional yang diperingati Komisi Pemberantasan Korupsi bersama pegiat dan organisasi antikorupsi lainnya dengan menyelenggarakan rangkaian acara menarik di berbagai kota di Indonesia. Kita semua percaya, jujur adalah langkah awal…