Tag: Tokoh

Aki Oleh bin Soleh, Mantan Jawara dari Sukarajin, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Aki Oleh bin Soleh, mantan jawara dari Sukarajin, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Beliau lahir tahun 1922, artinya saat ini sudah menginjak 94 tahun. Badannya masih kekar dan lincah, mata dan telinga nya masih tajam tanpa alat bantu. Walaupun tidak pernah…

Mengenang meninggalnya Presiden Soekarno pada tanggal 21 Juni 1970

Mengenang meninggalnya Presiden Soekarno pada tanggal 21 Juni 1970: Seorang Presiden tetap seorang Pemimpin yang akan dikenang bangsa dan negaranya, Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Hanya Soekarno The First Presiden Of Indonesia bisa bersahabat dalam waktu yang sama dengan Presiden Amerika Serikat…

Pengejaran Abadi Keadilan dan Kebebasan Grameen

Pengejaran Abadi Keadilan dan Kebebasan Grameen Atas undangan  Muhammad Yunus, Kerry Kennedy melakukan perjalanan ke Bangladesh, suatu pengalaman yang benar-benar merendahkan diri dan inspiratif. Kerry Kennedy bertemu begitu banyak orang luar biasa yang berjuang untuk memperbaiki negara dan kehidupan mereka.…

Pergantian Presiden Indonesia Yang Mengalami “Ombak Besar” (Bagian-1)

Indonesia telah mengalami beberapa penggantian pemimpin. Pada saat penggantian kepemimpinan, sering sekali terjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Dan sepertinya pergantian Presiden Indonesia di masa lalu  mengalami “Ombak Besar”…..Para penumpang Negara Kesatuan Republik Indonesia ikut panik kala “Nakhodanya” kehilangan “Sekoci Penyelamat”…. Pergantian…

20 Januari 1965: Indonesia Menarik Diri dari Keanggotaan PBB

Indonesia dan PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan sebuah organisasi internasional yang anggotanya hampir seluruh negara di dunia dan dibentuk untuk memfasilitasi hukum internasional, lembaga ekonomi, dan perlindungan sosial. Organisasi ini didirikan di San Fransisco pada tanggal 24 Oktober 1945 setelah…

Taufik Ismail: Orang Desa Mencetak Harapan, Orang Kota Mencetak Keluhan

Gambaran dari Sebuah Puisi Taufik Ismail untuk Sahabatnya, seorang Alumni IPB yang sangat menginspirasi Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya I Dia mahasiswa tingkat terakhir ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram…

Kisah Atlet Inspiratif Berhati Baja dan Kasih Sayang Ayahnya

Ini Kisah Nyata cuplikan dari Novel Inspiratif Sepatu Terakhir.. Olimpiade Barcelona, 1992. Enam puluh lima ribu pasang mata hadir di stadion itu. Semua hendak menyaksikan event atletik besar di ajang olahraga terbesar seplanet bumi. Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari…

Di Bawah Lindungan Ka’bah: Kisah Cinta Tak Sampai Hamid dan Zainab

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah novel sekaligus karya sastra klasik Indonesia yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Hamka. Novel ini diterbitkan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia-Belanda.
Novel ini menceritakan tentang kisah percintaan antara Hamid dan Zainab, yang sama-sama jatuh cinta tetapi terpisah mulai dari karena perbedaan latar belakang sosial hingga Zainab yang dihadapkan oleh permintaan ibunya agar menikah dengan laki-laki yang telah dipilihkan. Pada akhir cerita, Hamid memutuskan pergi ke Mekkah, kemudian terus beribadah hingga akhirnya meninggal di hadapan Ka’bah setelah mengetahui Zainab meninggal.
Novel ini disambut baik dari berbagai kalangan, bahkan hingga saat ini telah diadaptasikan menjadi film sebanyak dua kali, masing-masing dengan judul yang sama yaitu pada tahun 1981 dan 2011.

Plot Cerita:

Hamid merupakan Muslim kelahiran Minangkabau, Sumatera yang hanya dibesarkan oleh ibunya sejak berusia empat tahun, karena pada saat itu ayahnya telah meninggal. Ketika berusia enam tahun Hamid disekolahkan oleh Haji Ja’far bersama anak perempuannya yang bernama Zainab di sekolah yang sama. Setelah menamatkan pendidikan masing-masing di sekolah Hindia-Belanda, Hamid dan Zainab mulai jatuh cinta tetapi sama-sama tidak mengutarakannya hingga kemudian terpisah karena Hamid memutuskan pindah dari Padang ke Padang Panjang untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah agama. Namun sejak ayah Zainab meninggal, yang disusul dengan meninggalnya ibu Hamid, mereka telah jarang bertemu. Dalam suatu pertemuan, Hamid dihadapkan oleh permintaan ibu Zainab, Asiah untuk membujuk anaknya menikah dengan sepupunya. Permintaan ibu Zainab itu dijalankan oleh Hamid mengingat ibunya semasa hidup juga tidak mengizinkannya menikahi Zainab karena perbedaan kelas sosial. Hamid kemudian mengalami patah hati akibat keputusan yang diambilnya, lalu memutuskan pergi ke Mekkah.
Setelah setahun berada di Mekkah, Hamid yang mulai menderita penyakit bertemu dengan Saleh. Istri Saleh, Rosna adalah teman dekat Zainab sehingga Hamid dapat mendengar kabar tentang Zainab, termasuk kenyataan bahwa Zainab mencintai dirinya dan Zainab tidak jadi menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Hamid berniat untuk kembali ke Padang usai menunaikan ibadah haji. Pada saat bersamaan Saleh melalui istrinya mengirimkan surat untuk diberikan kepada Zainab yang isinya menggambarkan pertemuannya dengan Hamid. Namun Saleh mendapat balasan dari istrinya bahwa Zainab telah meninggal dunia; Saleh tidak memberikan kabar tersebut kepada Hamid sebelum akhirnya Hamid mendesaknya. Kenyataan itu disusul dengan meninggalnya Hamid di hadapan Ka’bah.